Isolasi diberlakukan. Beberapa sudah melakukannya secara mandiri sejak sebelum pemerintah mengumumkan kebijakan penjarakan fisik. Term sosial distancing, lockdown, karantina, di rumah aja, hingga perubahan penanganan di fasilitasi kesehatan, menjadi pemicu traumatis bagi individu yang tidak mampu mengatasinya. Perubahan kondisi yang begitu cepat dalam waktu yang tidak dapat ditentukan lamanya, serta pemberitaan bombastis yang banyak berseliweran dan tumpang tindih, turut mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Salah satu stresor yang banyak muncul adalah rasa khawatir tertular Covid-19, tapi di sisi lain mereka juga masih risau masalah finansial. Kondisi ketidakpastian tersebut membuat sebagian orang susah merencanakan masa depan. Dalam hal ini, terbukti bahwa pandemi Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental setiap individu.

Issue tentang kesehatan mental seseorang yang dipicu pandemi Covid-19 menjadi daya tarik peserta program Seniman Pascaterampil PSBK 2020 untuk dinarasikan melalui karya mereka pada platform Ruang Seni Rupa PSBK dengan judul Suara 3×4 m. Mereka mengetengahkan dinamika pengalaman seseorang ketika berada dalam kondisi dan ruang yang terbatas. Rekaman pengalaman dimunculkan sebagai suara reflektif; mempertanyakan mulai dariĀ  apakah pandemi layak menjadi alasan untuk selalu berdiam diri, hingga singgungan soal perjumpaan fisik ke perjumpaan digital. Pada saat yang sama, membayangkan trauma pasca pandemi sebagai bagian dari perilaku yang terbentuk semasa pandemi dimulai, dapat mengikis sisi sosial dan humanis seseorang. Yang terkadang secara tidak sadar, terimplementasikan menjadi sebuah respon diskriminatif. Melalui karya-karya yang hadir, mereka meragukan: barangkali, kita adalah salah satu penyebab orang lain merasakan menjadi yang terisolasi dan atau yang terdiskriminasi. Memilih untuk tidak mengeluh, menyalahkan, atau menuduh akhirnya menjadi keberanian yang langka ditemui.