Yang Berjarak Adalah Cara Pandang, Bukan Latar Belakang

Ada satu petikan kata mutiara yang lumayan akrab di telinga: “perbedaan adalah anugerah”. Mendengarnya hati menjadi tenteram dan lebih bisa menerima, saat suatu kali mendapati kondisi diri kita berbeda dari yang lain. Merasa tenteram dan bisa menerima artinya kita sering kali melakukan yang sebaliknya: tidak terima ketika diperlakukan berbeda, namun inginnya menjadi yang paling beda. Dalam konteks keindonesiaan “berbeda-beda namun tetap satu jua” kemudian menjadi jargon keramat yang mampu meramal kondisi sekarang. Mungkin ramalan ini berangkat dari kesadaran saat kalimat itu diciptakan, bahwa hidup beragam  tidaklah mudah. Meskipun sejak dalam pikiran, kita menolak menjadi seragam. Barangkali konsep hidup berdampingan dengan berserak perbedaan yang berada di sekeliling, berhenti pada lapis muka. Belum menyentuh relung hati dan akal budi, sehingga mampu menuntun diri pada sikap saling menghargai. Tak pelak konflik yang disulut perbedaan, banyak terjadi. Baik pada skala kecil seperti anak kembar saat dibelikan baju yang tidak sama oleh orang tuanya, sampai pada skala yang cakupannya lebih besar seperti perkara penyamaan jumlah bangunan rumah ibadah.

Sudah barang umum diketahui, hadirnya narasi-narasi pemerataan, ketidakadilan, seringkali merujuk pada upaya persamaan. Padahal, keadilan tidak memiliki konsep sama rata bukan? Proporsional barangkali menjadi istilah yang paling mendekati terjemahan konsepnya. Tentu, tidak semua dari kita mampu melihat sebuah porsi itu dengan cara pandang yang seragam. Di titik inilah, cara pandang terhadap porsi apa-apa yang seharusnya dibiarkan berbeda, dan porsi apa-apa yang segera meminta untuk menjadi sama, menentukan situasi dan kondisi. Akibatnya bisa dengan sangat terang dalam melihat satu kondisi kesenjangan tertentu, atau bahkan sebaliknya gelap gulita dalam melihat suatu kesenjangan. Sehingga seringkali tidak jernih dalam memetakan konteksnya dan terburu termakan umpan persamaan yang lahir bukan dari konsep keadilan.

Pameran kali ini menyepakati perbedaan, ketidaksesuaian, dan ketidakseimbangan sebagai turunan makna kesenjangan yang diniatkan. Irol memulai kesenjangan pada skop mikro. Terinspirasi lagu Gundul-Gundul Pacul yang ia refleksikan dengan pengalaman saat lulus kuliah dan mulai mencari pekerjaan. Entah, baik yang sudah teredukasi ataupun belum, masih saja konstruksi tentang pekerjaan harus sesuai dengan bidang pendidikan yang ditempuh seseorang, hadir sebagai pertanyaan yang digunakan untuk menyapa. Irol melihat adanya relevansi pada temuan interpretasinya atas lagu Gundul-Gundul Pacul kepada kondisi kesenjangan yang ia temui. Ia mengajak sepuluh partisipan untuk dilibatkan dalam aksi gubah lirik lagunya. Refleksi atas interpretasi dari lirik wakul gelimpang segane dadi sak latar (bakul tergelincir jatuh, nasinya tumpah ruah diatas lantai) ia bagikan kepada sepuluh partisipannya. Irol memaknai bahwa gelimpang nya seseorang saat mencari kerja ataupun sudah bekerja, bukan karena latar belakang pendidikannya. Melainkan sebab gembelengan (sembrono, ngawur) yang dilakukan. Dialog tentang gembelengan inilah yang ia tawarkan dan diskusikan kepada partisipannya. Aksi partisipatif ini menjadi relevan. Mengingat konsep proporsional adalah tentang jajak cara pandang subyek. Kesepuluh partisipan karya ini turut menginterpretasi lagu Gundul-Gundul Pacul dan turut merefleksikannya pada konteks pekerjaan yang dibingkai seniman, menjadi sebuah gubahan lirik lagu yang masing-masing menyanyikan.

Egi dan Teguh memberikan tawaran pandangan terhadap kesenjangan yang ditemukannya pada ruang lingkup kehidupan bersosial. Berkaca dari pengalaman, teman tentang sulitnya mengakses fasilitas kesehatan di wilayah yang masih ‘temaram’. Jauh dari apa yang disebut kota, yang mengindikasikan pusat, maju, dan lengkap. Egi menghadirkan peta imajinatifnya, sebagai gambaran bandingan sekaligus pengandaian atas sebuah akses kesehatan yang menurutnya meminta untuk segera disamakan. Menurutnya, kesehatan seharusnya punya porsi sama di mata kebijakan anggaran. Faktanya, mata kebijakan masih melihat dikotomi geografis desa-kota, jenis asuransi yang dibayarkan setiap bulannya, untuk menentukan sebuah akses ataupun kelengkapan fasilitas kesehatannya. Tak terbayang andai saja seseorang yang sedang sakit parah dan segera butuh penanganan medis, harus melewati jarak tempuh, ketidaklengkapan peralatan kesehatan, atau prosedur kebijakan yang mengkategorikan. Rasanya, kemanusiaan telah lama ditinggalkan dalam skenario kebijakaan anggaran maupun akses fasilitas kesehatan.

Sedang Teguh mengamati perlakuan diskriminasi yang terjadi disekitarnya, yang dipicu persoalan perbedaan golongan keagamaan, ekonomi, dan latar belakang sosial. Diskriminasi yang terjadi tak lepas dari pesona hak istimewa yang disandang oleh yang kaya, yang berkulit putih, yang punya jabatan tinggi, atau yang mayoritas. Siapa gerangan yang tidak kepincut untuk selalu di nomorsatukan dalam berbagai aspek kehidupan. Maka tak heran, bagi mereka yang bukan penyandang hak istimewa sangat mungkin diperlakukan dengan semena-mena. Perbedaan melihat kesenjangan latar belakang inilah yang melahirkan cara pandang diskriminatif. Hak istimewa menjadi kabur untuk selalu diterimakan kepada mereka yang menajamkan pengetahuan, misalnya, bukan yang mengandalkan politik golongan atau kelas sosial. Bisa jadi, Pancarona adalah utopia tentang kerinduan akan pengharagaan berbasis pengetahuan. Sehingga kesenjangan yang muncul tidak lahir dari rahim kepentingan golongan, justifikasi warna kulit, ataupun tingkat kekayaan seseorang. Latar belakang tentu sulit untuk diseragamkan. Namun melatih indera tubuh untuk memiliki cara pandang akan keberagaman, tentu bisa diupayakan.

Pada karya Mengabdi Pada Yang Benda, Ozaques menarasikan kesadaran pada skop makro: hidup berdampingan dengan makhluk alam lainnya. Berakar pada konsep batik citra semen (semi) yang mengandung konsep tiga jagad: atas, tengah, dan bawah. Manusia, menempati jagad tengah. Pada pola relasi antar makhluk hidup, manusia adalah penguasa. Posisi ini seringkali menghadirkan anggapan tentang kepemilikan hak atas keberlangsungan makhluk hidup lainnya. Baik untuk bertahan, maupun dibumihanguskan. Ukuran yang digunakan adalah mempertahankan yang menunjang kebutuhan, dan melennyapkan yang berpotensi menjadi ancaman. Dalam konteks karya ini adalah pada makhluk yang menempati jagad ketiga: bawah.  Jagad ini berisi hewan-hewan berukuran kecil, namun mengerikan dan seringkali tidak dianggap berguna bagi manusia dan hanya mendatangkan ketakutan belaka. Bagi Ozaques, anomali peristiwa alam ditengarai akibat ulah manusia yang tidak seimbang dalam mengindahkan wujud yang menempati masing-masing jagad. Walhasil, alam memberikan konsekuensi: ketidakseimbangan. Mengabdi Pada Yang Benda adalah racauan atas perlakuan tidak seimbang yang dilakukan manusia pada mereka yang benda namun sering ditakbendakan karena dianggap sebagai gangguan. Apa jadinya, jika kita sedikit merubah pandangan, bahwa mereka yang berada di jagad bawah ini sama sekali tidak mengerikan, namun memiliki peran, arti, dan terlebih menyenangkan? Mungkin, keseimbangan jagad akan bertahan sedikit lebih lama.

Melalui satu karya ke karya lainnya, tentu yang dibicarakan bukan solusi pasti namun sekedar ingin mengajak pengunjung pameran ini untuk meninjau ulang cara pandang kita pada kata senjang. Ketika kata senjang diucapkan, serasa ia mengandung jarak terhadap satu hal yang tengah dibandingkan. Jarak yang terkandung, layaknya jurang pemisah yang tidak akan pernah mempertemukan sisi tebing satu dengan sisi tebing lainnya. Maka yang bisa dilakukan hanyalah melipat jarak tersebut. Jarak yang tidak berhenti pada artian fisik semata, namun juga tentang jarak yang terkandung dalam pola pikir, cara pandang, yang seterusnya akan memandu dan menentukan situasi dan kondisi dimana latar belakang masih menentukan porsi-porsi kebijakan.

Pengantar Kuratorial Online Exhibition Ruang Seni Rupa PSBK 2020 ed.7 November s/d 7 Desember 2020 dalam judul “Melipat Senjang” oleh Istifadah Nur Rahma.